Tour de Kacip, Baluran National Park

Hari itu aku berangkat abis subuh dari Rumah untuk penyelesaina buku ketiga tentang taman nasional Baluran.Jam menunjukkan pukul 05.00, dengan laju disesuaikan dengan kota kota kecil yang aku lewati….porong, bangil, pasuruan, probolinggo, kraksaan, besuki,situbondo, asembagus dan Bajulmati Baluran…sampai disana pukul 9.30 total 252 km…

Pukul 11.30 , bro iqbal sudah menunggu bersiap meluncur ke Talpat, lereng Gunung Baluran, total hingga Curah Kacip 5 jam perjalanan dengan mendaki bukit per bukit dengan kemiringan 60 derajat , panas menyengat dan rumput yang mengering.

Sesampai di kacip, lokasi perkemahan telah menunggu bro Teddy dan bro swiss yang telah berangkat lebih awal dari kami.SUngguh aku tertegun, sepanjang perjalanan, pemandangan dan iklim mikro disana benar benar BERBEDA…chemistry yang begitu anggun, seolah berada di alam lain.

Selama bermalam disana selama 2 hari, aku memanfaatkan sumber air yang mengalir di Kacip, sejak itu berbagai pertanyaan bermunculan di otakku,bagaimana kualitas air itu, darimana air ini, bagaimana kualitasnya, jika kemarau puncak bulan Oktober bagaimana dampaknya, bagaimana jika musim hujan?berapa ketinggian saat musim hujan, apa saja yang di hanyutkan, kemana larinya?jenis bakteri apa yang ada selama air mengalir?mengapa demikian dan sebagainya ..

Walhasil, aku coba tanyakan kepada salah satu teman disana, apakah sudah ada pengujian lab ttg air di Kacip?bahan baku air minumkah atao siap minum?uji biologis ato uji kimia?

Jawabannya : BELUM PERNAH…lalu aku mencoba mengira ngira, tentunya berbagai pertanyaan lain belum pernah diteliti , la wong kualitas airnya aja belum pernah di teliti apalagi data lainnya (maaf jika jawaban teman dari Baluran tersebut salah) apapun itu, yang mengenaskanadalah, Taman Nasional setua Baluran belum memiliki data SERIES mengenai kondisi alam dan keanekaragamannya…ironinya jika dilihat dari TUGAS POKOK FUNGSI pengelola kawasan adalah memiliki Data series berbagai hal terkait dengan 3 P dan itu adalah Wajib , fardlu A’in.

Malah sebaliknya, kebanyak manajemen konservasi di Indonesia tidak terkecuali Taman Nasional Baluran cenderung “mengurus ” hal hal yang bersifat ceremonial, yang justru sifatnya sementara dan TIDAK SUSTAIN.

Kalo sudah begini, tentunya banyak pekerjaan yang harus di tuntaskan dari negara ini sebagai makro pengelola dan pimpinan kawasan sebagai mikro penguasa.

Semoga ini menjadi catatan kecil yang bisa memotivasi kerja kepala balai yang baru nantinya…

NB:Tulisan ini tidak ditujukan kepada seseorang, tetapi lebih diperuntukkan kepada seluruh STAKE HOLDERS baik Pengelola kawasan sebagai pengemban AMANAT UTAMA, LSM, maupun lapisan masyarakat yang MENGAKU cinta KONSERVASI….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.