Dampak Negatif Industri Pariwisata pada Lingkungan Sosial Budaya

Dampak sosial budaya dari pariwisata massal memberikan gambaran tentang pengaruh-pengaruh yang muncul terhadap komunitas “tuan rumah” dalam hal ini masyarakat lokal sekitar daerah wisata, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam berinteraksi dengan wisatawan (nusantara maupun asing), dan interaksinya dengan Industri pariwisata.

Dengan berbagai alasan , masyarakat lokal cenderung menjadi kelompok yang lemah bila berhadapan dengan kepentingan – kepentingan wisatawan, penyelenggara wisata (Biro Perjalanan Wisata, Agen Perjalanan dsb), dan interaksi dua kelompok tersebut relatif sulit untuk diukur dan diidentifikasi karena pengaruhnya tidak selalu nyata. Dampak-dampak tersebut muncul ketika pariwisata mulai mempengaruhi sistem nilai dan perilaku masyarakat lokal, dengan demikian ancaman terhadap keberadaan indentitas asli masyarakat dapat diidentifikasi.

SELNGKAPNYA DOWNLOAD DI SINI

Abadikan Macan Tutul Muda dengan Lampu Senter

Sabtu malam (18/2/2012), sekitar pukul 19.30 saya melakukan night safari bersam pak Hendri, rekan Polisi Kehutanan di jalur Bekol- Batangan Taman Nasional Baluran yang berjarak 12 km. Tepatnya di jalur HM 47 (sekitar 4,7 dari pintu gerbang taman nasional), si tutul muda melintas dengan posisi mengendap.

Si tutul muda tak menyadari kehadiran kami, dan sama-sama kaget. Dengan senter 500 lumens saya arahkan ke semak dan sang macan menatap kami. Jantung berdegup kencang, dan seketika saya arahkan kamera ke macan tutul yang kurang lebih berusia 2,5 tahun.

Hanya sekitar 15 detik, macan tutul muda itu segera lenyap di balik semak. It was amazing bro! lanjut Nurdin melalui percakapan sms dengan Mamuk Ismuntoro, pemimpin redaksi Matanesia Magazine.

Nurdin menuturkan, macan tutul muda jantan terlihat sehat dengan panjang ekor sampai kepala sekitar 1,8 meter.

Kami menunggu foto-foto eksklusif macan tutul Jawa, yang baru diabadikan lagi setelah 30 tahun di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Explore Baluran National Park 2011

14 Desember 2010 lalu, saya diundang sebagai keynote speaker oleh Balai Taman Nasional Baluran Jatim dalam rangka EXPLORE BALURAN 2011, acara ini mengundang juga ASITA (Asosiasi Traver se Asia Tenggara )DPD Jatim dan pelaku travel di Situbondo, Bondowoso, banyuwangi dan Surabaya. Tujuan acara tersebut mengenalkan Baluran sebagai Daerah Tujuan Ekowisata (DTE) di Jatim bahkan Internasional.

Bagi saya pribadi yang telah berinteraksi dengan Taman Nasional baluran sejak 2003 hingga sekarang, ini kali pertama gebrakan oleh balai taman nasional dalam mencoba “nyali” memasarkan potensi taman nasional Baluran sebagai DTE yang tentunya membawa konsekwensi logis dalam prosesnya nanti baik dimata pelaku bisnis (travel), wisatawan, akademisi, masyarakat lokal dan tentunya Balai taman nasional Baluran sebagai perwakilan dari pemerintah.

Banyak respon positif yang bermunculan dari para undangan saat itu, tentunya juga masukan yang bersinergi bekerjasama menata kawasan Baluran menjadi DTE yang sesuai dengan aturan pemerintah dan juga kebutuhan (bukan keinginan) pelaku travel dan wisatawannya.Kritikan juga saya sampaikan kepada ASITA dan pelaku bisnis travel untuk tetap ON TRACK dalam “menjual” filosofi” ecotourism kepada wisatawan..disertai dengan berbenah pula Taman Nasional Baluran dalam melayani para ECOTOURIST dimasa mendatang, baik dalam pelayanan prima, amodasi yang bersih tidak harus mewah, ecofriendly,interpreter ecotour (bukan pemandu) dan koordinasi layanang dari pintu masuk hingga keluarnya wisatawan.

Tentunya tidalah mudah mempersiapkan semua ini , membutuhkan niat, keseirusan, kontinuitas kerja dan kerjasama yang baik dari seluruh stakeholder di sekitar kawasan. namun semuanya juga harus dilakukan SEKARANG dan SAAT INI..dengan segala keterbatasan dari kondisi yang ada di Taman Nasional Baluran (seperti kebanyakan taman nasional di Indonesia), saya melihat upaya teman teman PEH dan POLHUT telah berjalan dan akan terus berjalan dikemudian hari..dan saya akan selallu dan selalu terus “MENGAWAL” proses ini hingga saya tiddak mamupu lagi beraktifitas dalam skala kecil sekalipun
VIVA BALURAN…EXPLORE BALURAN SELAMANYA…

Catatan Kecil dari Diskusi Terbatas Wantimpres 2010

1 Desember 2010 lalu , saya diundang (dari 20 undangan ) oleh Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pendidikan dan Kebudayaan , Prof Dr.Meuthia Hatta. Judul diskusi tersebut “Potensi dan Hambatan dalam pembangunan wisata eko budaya”.

Dari sekian materi yang dipaparkan baik dari ASITA (pelaku bisnis wisata), Akademik maupun Kemntrian Pariwisata (diwakili dierktur pengembangan pasar pariwisata), saya melihat banyak hal yang ternyata masih membuktikan (sekali lagi) bahwa mulai dari kementrian hingga pelaku bisnis pariwisata) masih melihat industri pariwisata sebagai UANG CEPAT dan TIDAK BERKELANJUTAN…konyolnya visi dan misi kemntrian pun masih tergolong tidak jelas , bisa bayangkan apa yang terjadi di level propinsi maupun kabupaten.

Contoh

  1. Bagaimana kebanyakan dinas pariwisata propinsi belum memahami konsep “Eko” dalam industri pariwisata yang telah ada sejak tahun 80an?
  2. Bagaimana kebijakan lokal (perda) tidak mendukung responsible tourism salah satunya selalu memberikan kemudahan dalam AMDAL hotel? silahkan lihat Pantai Kuta dan sekitarnya sekarang…
  3. Ego sektoral dari Kementrian Pariwisata, Kemnetrian Kehutanan dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang masih kental dalam menangani pariwisata yang maunya “eco friendly”…tidaklah mungkin
  4. Bagaimana dengan Badan nasional Sertifikasi Profesi yang seharusnya melindungi kepentingan jutaan lulusan SMK dan Sekolah tinggi pariwisata dalam bersaing dengan pekerja asing yang sudah mulai masuk ke Indonesia awal 2010 lalu?

 

Banyak hal yang masih menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, kita cenderung berpikir POTENSI dan Selalu POTENSI yang ada di Indonesia…jarang kita melihat THREAT dari kerangka SWOT yang kita kenal…harusnya TOWS bukan SWOT…

Jujur aja, saya berharap banyak terhadap proses diskusi saat itu mengingat kapabilitas dan kredibilitas penyelenggaranya… Semoga bermanfaat