Konservasi VS Kebutuhan Pokok Masyarakat

Beberapa hari lalu saya sempat ngobrol dengan seorang sahabat , staf taman nasional dengan seriusnya beliau menceritakan pengembangan proyek biogas yang diwewenangkan kepadanya, intinya proyek tersebut belum bisa diaplikasikan kepada masyarakat sebagai bahan bakar rumah tangga alternatif yang seperti di tuangkan dalam tujuan setiap proyek (biasanya di tujuan manfaat selalu ada tulisan “…dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat bla…bla…bla atau sejenisnya)

saya sempat termenung, mencoba beberapa sudutpandang bukan hanya pemanfaatan biogas itu sendiri tetapi lebih pada bagaimana pendekatan yang masih keliru dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dikenalkan kepada masyarakat sekitar..berikut sudut pandang saya :

  1. Konservasi masih dan selalu dianggap PELARANGAN atau STOP pemanfaatan di kawasan konservasi taman nasional misalnya, kasus yang sedang saya kerjakan dalam 2 bulan kedepan adalah Desa Sepanjang Kepulauan Sumenep yang masyarakatnya menolak keras konservasi meskipun bawah lautnya telah hancur lebur seperti gurun pasir terumbukarang….alasannya pemerintah belum bisa memberikan pengganti sumber pendapatan yang selama ini mereka dapatkan dari pengeboman dan tindakan negatif lainnya. Proyek2 yang sering dilakukan kawasan taman nasional masih sebatas “MENGENALKAN” alternatif sumber ekonomi yang dianggap masyarakat belum bermakna “RIIL” dalam kehidupan sehari, seminggu, sebulan, setahun bahkan seumur hidup mereka… rasio perhitungan belum dapat dilakukan berdasarkan deret hitung dan waktu.
  2. Pengelolaan kawasan konservasi , taman nasional misalnya masih berorientasi pada pengembangan fisik belum mampu mengarah pada konsep “ECOLODGE” yang justru menghemat anggaran yang dialokasikan pemerintah di kawasan tersebut. Hal ini berimbas secara tidak langsung memberikan stigma masyarakat yang mengunjungi kawasan , proses pembelajaran yang secara tidak sengaja akan muncul di benak pengunjung bahwa kawasan konservasi masih bisa dilakukan pengembangan fisik tidak ramah lingkungan baik materi bangunan maupun bentuk bangunan yang kontra dengan alam sekitar. Padahal proses “informasi ” itu secara perlahan mengalir setiap kepemimpinan pengelola yang dapat diartikan “dinilai” sebagai bagian dari cara bersikap, berperilaku, pengetahuan dari “sang pengelola kawasan” tersebut…

Pertanyaannya, bagaimana kita semua bisa yakin bahwa proses konservasi dengan “3P” Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan bisa seutuhnya dipahami masyarakat sekitar jika contoh kecil diatas masih terjadi di Indonesia?

RUMUS SEDERHANA:
CONSERVATION = 3P . Fungsi 3P disederhanakan menjadi 1P saja yaitu fungsi pemanfaatan. Dan fungsi pemanfaatan tersebut difokuskan pada ekologi wisata. Sehingga rumusnya menjadi C=E=W ; konservasi adalah Ecotourism adalah agen kesejahteraan (agent of welfare).

Semoga bermanfaat

Green Biker

Salam buat para Biker Indonesia… Selama 3 tahun terakhir ini saya “telah” terbiasa berkendara dengan motor saya…awalnya ngikut klub Thunder Community Indonesia Chapter SUrabaya..kegiatan turing foto saya semakin sering ke kawasan konservasi yang saat ini sedang giat ke Taman Nasional Baluran Situbondo Jatim.

Selama itu pula tidak jarang saya bertemu sekelompok atau biker independen (sendirian:..maksutnya)) berseliweran sepanjang jalan pantai utara Pasuruan – banyuwangi.Seiring itu pula saya sempat berfikir untuk “memasukkan” para BIKER untuk berperan aktif dalam kegiatan konservasi secara luas baik individu atau kelompok …baik lingkungan alam maupun kehidupan sosial bidaya masyarakat di sepanjang jalan turing.

Saya pengen mengenalkan sebuah konsep “GREEN BIKER” sebagai filosofi biker …sebuah konsep…sebuah paradigma baru dalam berkendara mungkin pandangan ini bukan hal yang baru tetapi saya hanya ingin mengajak BIKER SURABAYA MALANG SIDOARJO GRESIK sekitarnya sebagai lingkup kecil…

Turing tidak hanya untuk kesenangan hobi semata tetapi banyak yang bisa dilakukan selama turing,berinteraksi dengan sebuah acara sosial budaya misalnya…membantu kegiatan konservasi misalnya…yang seluruhnya bisa diperoleh jadwal kegiatan selama setahun penuh jika para BIKER memanfaatkan LINK instansi terkait seperti Dinas Kehutanan Propinsi, Balai Taman Naisonal, DInas Pariwisata Daerah dan sebagainya…

Intinya, BIKER bisa berperan aktif dalam kegiatan konservasi dalam arti yang luas ..turing bisa lebih bermakna ..lebih Rahmatan lilalamin….(berkah buat semesta alam)….dengan tetap mengedepankan SAFETY RIDING dan SELF CONTROL…

Saya siap bersama sama untuk mengenalkan konsep ini dan saya telah melakukannya 3 tahun terakhir hingga sekarang…bagaimana dengan anda…sobat biker?

Semoga tulisan ini memberikan motivasi yang bermanfaat. Semoga bisa disebarluaskan di seluruh JAWA TIMUR dan INDONESIA…… Semoga POLDA JATIM dan Dinas Terkait bisa men”sosialisasikan” konsep ini…..

PELUANG Ekowisata dan pengaruhnya terhadap BIODIVERSITAS

“…Hilangnya biodiversitas mengakibatkan berkurangnya produksi barang dan jasa, untuk kemakmuran ekonomi dan kelangsungan hidup manusia.Singkatnya, biodiversitas adalah hal yang mendasar bagi pembangunan yang berkelanjutan…”

Industri ekowisata mengklaim bahwa aktifitas wisata dapat dipandang sebagai kontribusi dasar dari pembangunan yang berkelanjutan, yaitu:

  • Memiliki dampak yang ringan terhadap terhadap lingkungan dibandingkan dengan industri yang lain.
  • Didasarkan pada kekaguman terhadap alam dan lingkungan budaya, sehingga timbul motivasi untuk menjaganya.
  • Dapat memainkan peran positif terhadap kemampuan untuk meningkatkan pendidikan dan kebutuhan akan pendidikan melalui jaringan distribusi yang luas, serta
  • Menyediakan suatu insentif ekonomi untuk menjaga habitat yang dengan kata lain dapat mengkonversikan penggunaan tanah yang lebih ramah lingkungan.
  • Poin tersebut diatas mempunyai sudut pandang yang sama dalam hal memberikan kontribusi potensi ekowisata terhadap konservasi biodiversitas, karena biodiversitas merupakan suatu komponen yang kritis dan sensitif berkaitan dengan lingkungan alam dimana wisatawan dapat menikmatinya. Kenyataannya bahwa ekowisata telah tumbuh dan berkembang khususnya pada hotspot biodiversitas di bagian selatan katulistiwa. Adanya pertumbuhan pesat pada minat, kunjungan dan aktifitas wisata alam serta petualangan dalam industri ekowisata global selama dua dekade terakhir ini. Sangat masuk akal, jika diasumsikan bahwa pertumbuhan ekowisata di kawasan yang tinggi tingkat biodiversitasnya berhubungan dengan keberadaan lingkungan alam yang relatif unik. Perusakan lingkungan sebagai akibat suksesnya sebuah industri dapat dianalogkan seperti membunuh angsa yang bertelur emas.

Ekowisata dapat memberikan kontribusi signifikan untuk menjaga sistem konservasi kawasan yang dilindungi.

Keuntungan langsung dari ekowisata untuk konservasi dapat diilustrasikan seperti berikut (Brandon 1996) :

  1. Suatu sumber finansial untuk konservasi biodiversitas, khususnya kawasan yang dilindungi secara hukum.
  2. Pembenaran ekonomis untuk kawasan yang dilindungi.
  3. Merupakan sumber ekonomi alternatif untuk masyarakat lokal, mengurangi eksploitasi berlebihan terhadap lahan liar dan sumber-sumber kehidupan liar yang terdapat dalam kawasan yang dilindungi.
  4. Bangunan konstituensi, yang mempromosikan konservasi biodiversitas, serta
  5. Sebagai daya dorong yang bersifat pribadi untuk tujuan konservasi biodiversitas.

 

“ Peran ekowisata dalam konservasi biodiversitas sangat signifikan pada negara-negara di selatan, karena mereka memiliki kawasan biodiversitas yang kaya tetapi pengelola kawasan yang dilindungi hanya mempunyai sedikit anggaran dana dan pengaruh politik yang sedikit. Sebaliknya, negara-negara utara memiliki banyak dana yang dapat dikontribusikan dalam konservasi biodiversitas melalui pertukaran mata uang asing dan peluang ekonomi lainnya bagi negara-negara selatan dan masyarakat lokalnya…” (Buckley, 2002)

by Nurdin Razak on Sunday, July 10, 2011 at 9:26pm •

“sepenggal coretan terinspirasi dari pertemuan dengan IUCN PBB, di Taman Nasional Baluran, 8-9 Juli 2011..semoga bermanfaat..!”

Tour de Kacip, Baluran National Park

Hari itu aku berangkat abis subuh dari Rumah untuk penyelesaina buku ketiga tentang taman nasional Baluran.Jam menunjukkan pukul 05.00, dengan laju disesuaikan dengan kota kota kecil yang aku lewati….porong, bangil, pasuruan, probolinggo, kraksaan, besuki,situbondo, asembagus dan Bajulmati Baluran…sampai disana pukul 9.30 total 252 km…

Pukul 11.30 , bro iqbal sudah menunggu bersiap meluncur ke Talpat, lereng Gunung Baluran, total hingga Curah Kacip 5 jam perjalanan dengan mendaki bukit per bukit dengan kemiringan 60 derajat , panas menyengat dan rumput yang mengering.

Sesampai di kacip, lokasi perkemahan telah menunggu bro Teddy dan bro swiss yang telah berangkat lebih awal dari kami.SUngguh aku tertegun, sepanjang perjalanan, pemandangan dan iklim mikro disana benar benar BERBEDA…chemistry yang begitu anggun, seolah berada di alam lain.

Selama bermalam disana selama 2 hari, aku memanfaatkan sumber air yang mengalir di Kacip, sejak itu berbagai pertanyaan bermunculan di otakku,bagaimana kualitas air itu, darimana air ini, bagaimana kualitasnya, jika kemarau puncak bulan Oktober bagaimana dampaknya, bagaimana jika musim hujan?berapa ketinggian saat musim hujan, apa saja yang di hanyutkan, kemana larinya?jenis bakteri apa yang ada selama air mengalir?mengapa demikian dan sebagainya ..

Walhasil, aku coba tanyakan kepada salah satu teman disana, apakah sudah ada pengujian lab ttg air di Kacip?bahan baku air minumkah atao siap minum?uji biologis ato uji kimia?

Jawabannya : BELUM PERNAH…lalu aku mencoba mengira ngira, tentunya berbagai pertanyaan lain belum pernah diteliti , la wong kualitas airnya aja belum pernah di teliti apalagi data lainnya (maaf jika jawaban teman dari Baluran tersebut salah) apapun itu, yang mengenaskanadalah, Taman Nasional setua Baluran belum memiliki data SERIES mengenai kondisi alam dan keanekaragamannya…ironinya jika dilihat dari TUGAS POKOK FUNGSI pengelola kawasan adalah memiliki Data series berbagai hal terkait dengan 3 P dan itu adalah Wajib , fardlu A’in.

Malah sebaliknya, kebanyak manajemen konservasi di Indonesia tidak terkecuali Taman Nasional Baluran cenderung “mengurus ” hal hal yang bersifat ceremonial, yang justru sifatnya sementara dan TIDAK SUSTAIN.

Kalo sudah begini, tentunya banyak pekerjaan yang harus di tuntaskan dari negara ini sebagai makro pengelola dan pimpinan kawasan sebagai mikro penguasa.

Semoga ini menjadi catatan kecil yang bisa memotivasi kerja kepala balai yang baru nantinya…

NB:Tulisan ini tidak ditujukan kepada seseorang, tetapi lebih diperuntukkan kepada seluruh STAKE HOLDERS baik Pengelola kawasan sebagai pengemban AMANAT UTAMA, LSM, maupun lapisan masyarakat yang MENGAKU cinta KONSERVASI….

Ekoturisme, Sebuah Pengantar

Ekoturisme telah melanda industri pariwisata dan konservasi alam, perlahan tapi pasti telah merubah sebagian perilaku wisatawan dari massal menuju pada grup kecil.

Wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Di Yellow Stone dan Yosemite, Taman Nasional Serengati Afrika, Memotret beruang di Alaska, atau para pendaki di Himalaya, merupakan sebagian bentuk – bentuk aktifitas ekoturisme. Pada abad keduapuluh, merupakan starting point bagi perubahan bentuk wisata ini, Afrika adalah salah satu contoh yang baik dalam mengenalkan ekoturisme.

Wisatawan dapat mengamati hewan-hewan liar dengan tanpa mengganggu keberadaannya, memotret serta mempelajari perilakunya. Kelompok-kelompok kecil wisatawan yang sedang bersafari inilah disebut ekoturisme.

SELENGKAPNYA DOWNLOAD DI SINI