Pameran Tunggal Surabaya Wildlife Photo Exhibition 2012

salam lestari

saat yang ditunggu tunggu selama ini telah tiba….25 Mei 2012 , 18.50 WIB adalah hari bersejarah buat saya sebagai wildlife Photographer.Tamu mulai berdatangan sejak magrib tiba, pasukan “bodrex” dari taman nasional Baluran , Mr Sutawi dan keluarga (former sekjen ASITA Surabaya), Bu wiwik (kadisparta Surabaya), alumni perhotelan “Kesultanan Oman”, perwakilan kebudayaan Belanda di Surabaya, ITS, Pemerhati lingkungan, komunitas fotografi , dan pihak sponsor…total 85 undangan, luarbiasa…galeri saat itu terasa sempit karena berjubelnya tamu datang silih berganti sampai pukul 21.15 WIB
Presentasi dimulai dari dibukanya pengantar sederhana dari House of Sampoerna dilanjutkan pemutaran film profil saya selama 2,4 menit…hehe serasa jadi artis.Tidak banyak yang saya sampaikan selama pembukaan, selain memandu para tamu dan menjelaskan proses pemotretan yang masih awam bagi beberapa orang..
Benar benar peristiwa yang monumental meliha antusias pada tamu melihat beberapa foto di lantai 2 galeri HoS.

speechless……….:))

Persiapan Pameran Surabaya Wildlife Photo 2012

salam

Tak terasa persiapan pameran tunggal saya tinggal meghitung waktu…seperti MIMPI…seperti berada di belahan dunia yang berbeda dari rutinitas kerja dan aktifitas yang selama ini saya jalani….mempersiapkan foto utama, desain poster, katalog, souvenir , undangan, presentasi dan lainnnya. seperti menghadapi hajat besar…ya, dan memang ini adalah hajat besar saya yang pertama..salah satu impian semua fotografer (hampir semua kali ya..) adalah PAMERAN TUNGGAL
Teringat, tahun 2010 lalu, bertemu mas Mamuk dari Matanesia Pictures. awalnya hanya sharing….diskusi foto…mengenalkan siapa dan passion saya…apa yang saya lakukan dalam fotografi dan apa yang saya tekuni…sambil menunjukkan semua foto saya di Surabaya dan berujung sebuah ucapan dari saya..” mas mamuk..saya pengen pameran , kira kira judulnya apa ya….” Jawab mas mamuk ” Surabaya Wildlife Photo Exhibition” waoohh kedengerannya judul pameran yang bombastis dan mendunia. hehehe

dimulai dari situlah saya seperti menemukan banyak ide dan harapan yang besar. saya buat proposal untuk House of sampoerna di akhir desember 2010. ternyata jadwal di HoS sudah padat merayap untuk 2011. patah arang? oh tentu saja tidak, saya ajukan lagi proposal tersebut di awal tahun 2011, tetapi belum kunjung juga ada jawaban sampai akhir tahun 2011.

perjalanan menuju sesuatu yang menurut saya sangat idealis memang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan penuh tantangan. perjuangan ini adalah untuk mewujudkan idealisme saya selama ini.Suatu ketika seiring kedekatan saya berkolaborasi dengan mas mamuk dan mas bobby dari Matanesia pictures dalam menggarap berbagai kegiatan foto dan diskusi, saya diundang acara perpindahan CCCL di Darmokali 10 Surabaya ke tempat baru, disitulah saya bertemu Mr Harry yong yang memperkenalkan saya kepada staf House of sampoerna yang kebetulan hadir diacara itu. semangat saya mulai bangkit kembali, adrenalin untuk mewujudkan impian kembali mengalir dan memompa semangat saya mengajukan proposal, dan…….DITERIMA
Waohhhhhh…its dream comes true….
Benar benar perjuangan dan dukungan dari semua kolega dan handai taulan..

semoga memberikan inspirasi dan motivasi kepada teman teman agar tidak pernah menyerah dalam profesionalisme
DEVOTION dalam pekerjaan kita adalah mutlak jika ingin serius dalam berkarya…:)

salam lestari

Bangunan Cagar Budaya : bukti sejarah atau tinggal sejarah..?

Kewenangan perizinan revitalisasi dan pembongkaran cagar budaya, akan segera berpindah dari pemerintah pusat ke pemerintah kota Surabaya (Kompas, 13 Agustus 2004). Ironi memang, pada saat mulai diterapkannya otonomi daerah, tiap-tiap pemerintah kota khususnya Kota Surabaya memacu pembangunan dengan dalih peningkatan perekonomian dengan mengorbankan nilai-nilai sejarah yang terdapat pada bangunan – bangunan tua . Keberpihakan pemerintah kota “terbaca” membela para pemilik modal yang hanya menghitung keuntungan finasial yang kemudian akan memberikan pajak dan retribusi yang relatif banyak kepada pemerintah kota sebagai Pendapatan Asli Daerah.

Rancangan Peraturan Daerah mengenai Benda Cagar Budaya disahkan oleh DPRD., yang tentunya akan memberikan segelintir harapan bagi masyarakat khususnya pemerhati cagar budaya seperti banguan-bangunan tua untuk sedikit bernafas lega meskipun permasalahan perlindungan terhadap peninggalan sejarah seperti bangunan tua tidaklah berhenti sampai disitu. Banyaknya bangunan –bangunan tua peninggalan kolonial yang notabene merupakan bukti sejarah perlawanan, telah mengalami perubahan pemanfaatan baik dari fungsi maupun bentuk fisiknya bahkan dihilangkan samasekali dan diganti dengan bangunan – bangunan baru. Kasus Jembatan Petekan, Bekas RS Mardi Santoso, Pabrik Bir Jl. Ratna dan banyak peninggalan lama lainnya telah menjadi “korban” pencurian, dan perampasan secara fisik maupun fungsinya.

Keberadaan instansi pemerintah yang terkait salah satunya Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan cenderung kurang memiliki sense of belongings yang tinggi dalam memanfaatkan keberadaan bangunan-bangunan tua yang berada dikawasan Jembatan merah dan Kalimas Surabaya. Pemanfaatan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan para siswa terutama pada masa-masa usia awal memasuki pendidikan, tentunya dalam format yang menarik dibantu dengan instrumen lain sepert katalog foto-foto bangunan lama yang akan dikunjungi. Bagi Dinas Pariwisata, kerjasama dengan dunia pendidikan dan pihak swasta adalah salah satu peluang yang dapat dilakukan meskipun tidak selalu harus menguntungkan dari segi finansial, paling tidak apabila koordinasi dinas terkait dapat dilakukan secara kontinyu, maka subsidi terhadap banguna-banguna tua akan terwujud dari sumbangan atau tiket masuk yang didapat dari prosentase penjualan paket wisata yang dilakukan.

Peluang pengadaan paket wisata untuk mengunjungi bangunan bangunan tua peninggalan kolonial Belanda merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang dulunya leluhur mereka pernah tinggal di Indonesia. Kasus datangnya rombongan wisatawan Belanda beberapa tahun lalu dengan tujuan mengunjungi pabrik Bir di Jl. Ratna tidak dapat terwujud karena pabrik tersebut telah beralih fungsi dan arsitekturnya, merupakan contoh bahwa masih ada ikatan historis di wisatawan Belanda

Diskusi ekowisata dan Mangrove dengan JICA

Salam lestari

Pagi tadi Kamis 25 April 2012, saya diminta berdiskusi dengan pihak JICA, (Mr Hirohi Imae,PhD and team) terkait isu isu ekowisata dan mangrove di surabaya, Jawa dan Indonesia pada umumnya.Ini merupakan momen yang penting bagi saya pribadi mengingat sudah lebih dari 10 tahun saya menyuarakan konsep EKOWISATA  atau sustainable tourism sebagai media efektif saat ini di Indonesia khusususnya Jawa Timur

Banyak hal yang kami bicarkan, mulai dari kasus ekowisata mangrove Wonorejo Surabaya hingga kehidupan pesisir di Jawa.Ada beberapa hal yang harus digarisbawahi terkait isu tersebut:

1. Isu pendidikan bagi masyarakat lokal masih penting di kemukakan

2. Kreatifitas masyarakat menjadi bagian penting untuk mengimbangi kebutuhan ekonomi lokal tanpa mengurangi makna konservasi

3.Sales distribution channel dalam rangka menjual spot kawasan agar tetap menarik dikunjungi baik dari sisi ekonomi maupun kegiatan konservasi

salam lestari

This morning Thursday, April 25, 2012, I was asked to discuss  related issues and mangrove ecotourism issues in Surabaya and Indonesia with the JICA, (Mr Hirohi Imae, PhD and team).JICA had contacted  me a month ago for the discussion of this issue, but certainly, this is an important moment for me personally given more than 10 years I raised the concept of sustainable tourism ECOTOURISM as an effective tolls at this moment  in East Java, and Indonesia

Many things which we talked , started  from ecotourism cases in Wonorejo Surabaya mangrove to coastal environment  at Java island. There is some things related to the issue should be highlighted:

A. The issue of education for local people put forward is still important

2. Creativity of the community became an important part to compensate for the local economy without compromising the needs of conservation significance

3.Sales distribution channel in order to sell the spot to keep it interesting to visit the area both in terms of economic and conservation activities

best regards

nurdinrazak.com