Hard Ecotourism VS Soft Ecotourism

Sejak pertengahan tahun 80an, ecotourism (baca: ekowisata) telah berkembang pesat di Eropa Barat, banyak pemicunya saat itu , baik demand wisatawan yang jenuh akan mass tourism,usia lanjut yang semakin panjang umur, pendidikan calon wisatawan, dan beberapa komponen lain

Intinya, sebagian besar terutama pemerintah Indonesia dan Pengusaha wisata (BPW atau agen) salah dalam mengartikan ECOTOURISM dan tanpabanyak telaah, langsung aja maen praktek dan mengaanggap semua wisata yang berbau alam adalah ecotourism..lucunya sempat di rapat resmi dinas pariwisata Jatim pertengahan 2010, pejabat disana malah mengartikan Ecotourism = ECONOMI TOURISM bukan ECOLOGY TOURISM…bisa bayangkan di era ini masih minim sekali pengetahuan Pegawai dan pejabat propinsi pariwisata ttg ecotourism …apalagi level kabupaten kota.

Kembali ke topik , banyak pengertian ecotourism yang diluncurkan oleh para pakar barat, baik David A.Fennel, The International Ecotourism Society, UNEP, World Travel Organization, tapi prinsipnya , ecotourism adalah perjalalanan wisata yang bertanggung jawab terhadap segala interaksi dari wisatawan dengan komponen lingkungan selama beraktifitas, baik itu pendidikan, konservasi maupun ekomoni lokas masyarakat (interaksi sosial yang positif)..dan menjadi alternatif solusi pengendali perusakan lingkungan oleh INDUSTRI PARIWISATA MASSAL yang bisa anda lihat di KUTA BALI sebagai salah satu contoh negatifnya.

Kita tidak boleh sertamerta mengukur dari sisi pendapatan saja, karena dari segi EKONOMI LINGKUNGAN pun , alam dan sosial punya HARGA yang sangat MAHAL…dan itu tidak bisa tergantikan di INDUSTRI PARIWISATA MASAAL.

HARD ECOTOURISM merupakan ecotourism yang bersifat tegas dan jelas terkait dengan aktifitas wisatawan dan semuanya diatur BASED ON RESOURCES buka USER ORIENTED… contohnya adalah TAMAN NASIONAL dan KAWASAN KONSERVASI i( Kategori I sampai III UNEP PBB)
Sedangkan SOFT ECOTOURISM dicontohkan pengelolaan arum jeram, desa wisata, kawasan konservasi pribadi seperti Pusat Pembelajaran Lingkungan Hidup yang ada di hampir semua daerah dengan berbagai nama.

Perlu diperhatikan, SOFT ECOTOURISM sangat berbatas tipis dengan PARIWISATA MASAAL jika pengelolanya tidak memperhatian kaidah ECOTOURISM itu sendiri

Kesimpulannya: ECOTOURISM menjual FILOSOFI dalam berinteraksi dengan alam selama berwisata bukan menjual produk lingkungan itu sendiri sehingga dibutuhkan MORAL DAN PENDIDIKAN yang mampu mengakomodir semua prinsip2 tersebut diatas

One thought on “Hard Ecotourism VS Soft Ecotourism”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.