PELUANG Ekowisata dan pengaruhnya terhadap BIODIVERSITAS

“…Hilangnya biodiversitas mengakibatkan berkurangnya produksi barang dan jasa, untuk kemakmuran ekonomi dan kelangsungan hidup manusia.Singkatnya, biodiversitas adalah hal yang mendasar bagi pembangunan yang berkelanjutan…”

Industri ekowisata mengklaim bahwa aktifitas wisata dapat dipandang sebagai kontribusi dasar dari pembangunan yang berkelanjutan, yaitu:

  • Memiliki dampak yang ringan terhadap terhadap lingkungan dibandingkan dengan industri yang lain.
  • Didasarkan pada kekaguman terhadap alam dan lingkungan budaya, sehingga timbul motivasi untuk menjaganya.
  • Dapat memainkan peran positif terhadap kemampuan untuk meningkatkan pendidikan dan kebutuhan akan pendidikan melalui jaringan distribusi yang luas, serta
  • Menyediakan suatu insentif ekonomi untuk menjaga habitat yang dengan kata lain dapat mengkonversikan penggunaan tanah yang lebih ramah lingkungan.
  • Poin tersebut diatas mempunyai sudut pandang yang sama dalam hal memberikan kontribusi potensi ekowisata terhadap konservasi biodiversitas, karena biodiversitas merupakan suatu komponen yang kritis dan sensitif berkaitan dengan lingkungan alam dimana wisatawan dapat menikmatinya. Kenyataannya bahwa ekowisata telah tumbuh dan berkembang khususnya pada hotspot biodiversitas di bagian selatan katulistiwa. Adanya pertumbuhan pesat pada minat, kunjungan dan aktifitas wisata alam serta petualangan dalam industri ekowisata global selama dua dekade terakhir ini. Sangat masuk akal, jika diasumsikan bahwa pertumbuhan ekowisata di kawasan yang tinggi tingkat biodiversitasnya berhubungan dengan keberadaan lingkungan alam yang relatif unik. Perusakan lingkungan sebagai akibat suksesnya sebuah industri dapat dianalogkan seperti membunuh angsa yang bertelur emas.

Ekowisata dapat memberikan kontribusi signifikan untuk menjaga sistem konservasi kawasan yang dilindungi.

Keuntungan langsung dari ekowisata untuk konservasi dapat diilustrasikan seperti berikut (Brandon 1996) :

  1. Suatu sumber finansial untuk konservasi biodiversitas, khususnya kawasan yang dilindungi secara hukum.
  2. Pembenaran ekonomis untuk kawasan yang dilindungi.
  3. Merupakan sumber ekonomi alternatif untuk masyarakat lokal, mengurangi eksploitasi berlebihan terhadap lahan liar dan sumber-sumber kehidupan liar yang terdapat dalam kawasan yang dilindungi.
  4. Bangunan konstituensi, yang mempromosikan konservasi biodiversitas, serta
  5. Sebagai daya dorong yang bersifat pribadi untuk tujuan konservasi biodiversitas.

 

“ Peran ekowisata dalam konservasi biodiversitas sangat signifikan pada negara-negara di selatan, karena mereka memiliki kawasan biodiversitas yang kaya tetapi pengelola kawasan yang dilindungi hanya mempunyai sedikit anggaran dana dan pengaruh politik yang sedikit. Sebaliknya, negara-negara utara memiliki banyak dana yang dapat dikontribusikan dalam konservasi biodiversitas melalui pertukaran mata uang asing dan peluang ekonomi lainnya bagi negara-negara selatan dan masyarakat lokalnya…” (Buckley, 2002)

by Nurdin Razak on Sunday, July 10, 2011 at 9:26pm •

“sepenggal coretan terinspirasi dari pertemuan dengan IUCN PBB, di Taman Nasional Baluran, 8-9 Juli 2011..semoga bermanfaat..!”

Tour de Kacip, Baluran National Park

Hari itu aku berangkat abis subuh dari Rumah untuk penyelesaina buku ketiga tentang taman nasional Baluran.Jam menunjukkan pukul 05.00, dengan laju disesuaikan dengan kota kota kecil yang aku lewati….porong, bangil, pasuruan, probolinggo, kraksaan, besuki,situbondo, asembagus dan Bajulmati Baluran…sampai disana pukul 9.30 total 252 km…

Pukul 11.30 , bro iqbal sudah menunggu bersiap meluncur ke Talpat, lereng Gunung Baluran, total hingga Curah Kacip 5 jam perjalanan dengan mendaki bukit per bukit dengan kemiringan 60 derajat , panas menyengat dan rumput yang mengering.

Sesampai di kacip, lokasi perkemahan telah menunggu bro Teddy dan bro swiss yang telah berangkat lebih awal dari kami.SUngguh aku tertegun, sepanjang perjalanan, pemandangan dan iklim mikro disana benar benar BERBEDA…chemistry yang begitu anggun, seolah berada di alam lain.

Selama bermalam disana selama 2 hari, aku memanfaatkan sumber air yang mengalir di Kacip, sejak itu berbagai pertanyaan bermunculan di otakku,bagaimana kualitas air itu, darimana air ini, bagaimana kualitasnya, jika kemarau puncak bulan Oktober bagaimana dampaknya, bagaimana jika musim hujan?berapa ketinggian saat musim hujan, apa saja yang di hanyutkan, kemana larinya?jenis bakteri apa yang ada selama air mengalir?mengapa demikian dan sebagainya ..

Walhasil, aku coba tanyakan kepada salah satu teman disana, apakah sudah ada pengujian lab ttg air di Kacip?bahan baku air minumkah atao siap minum?uji biologis ato uji kimia?

Jawabannya : BELUM PERNAH…lalu aku mencoba mengira ngira, tentunya berbagai pertanyaan lain belum pernah diteliti , la wong kualitas airnya aja belum pernah di teliti apalagi data lainnya (maaf jika jawaban teman dari Baluran tersebut salah) apapun itu, yang mengenaskanadalah, Taman Nasional setua Baluran belum memiliki data SERIES mengenai kondisi alam dan keanekaragamannya…ironinya jika dilihat dari TUGAS POKOK FUNGSI pengelola kawasan adalah memiliki Data series berbagai hal terkait dengan 3 P dan itu adalah Wajib , fardlu A’in.

Malah sebaliknya, kebanyak manajemen konservasi di Indonesia tidak terkecuali Taman Nasional Baluran cenderung “mengurus ” hal hal yang bersifat ceremonial, yang justru sifatnya sementara dan TIDAK SUSTAIN.

Kalo sudah begini, tentunya banyak pekerjaan yang harus di tuntaskan dari negara ini sebagai makro pengelola dan pimpinan kawasan sebagai mikro penguasa.

Semoga ini menjadi catatan kecil yang bisa memotivasi kerja kepala balai yang baru nantinya…

NB:Tulisan ini tidak ditujukan kepada seseorang, tetapi lebih diperuntukkan kepada seluruh STAKE HOLDERS baik Pengelola kawasan sebagai pengemban AMANAT UTAMA, LSM, maupun lapisan masyarakat yang MENGAKU cinta KONSERVASI….

Abadikan Macan Tutul Muda dengan Lampu Senter

Sabtu malam (18/2/2012), sekitar pukul 19.30 saya melakukan night safari bersam pak Hendri, rekan Polisi Kehutanan di jalur Bekol- Batangan Taman Nasional Baluran yang berjarak 12 km. Tepatnya di jalur HM 47 (sekitar 4,7 dari pintu gerbang taman nasional), si tutul muda melintas dengan posisi mengendap.

Si tutul muda tak menyadari kehadiran kami, dan sama-sama kaget. Dengan senter 500 lumens saya arahkan ke semak dan sang macan menatap kami. Jantung berdegup kencang, dan seketika saya arahkan kamera ke macan tutul yang kurang lebih berusia 2,5 tahun.

Hanya sekitar 15 detik, macan tutul muda itu segera lenyap di balik semak. It was amazing bro! lanjut Nurdin melalui percakapan sms dengan Mamuk Ismuntoro, pemimpin redaksi Matanesia Magazine.

Nurdin menuturkan, macan tutul muda jantan terlihat sehat dengan panjang ekor sampai kepala sekitar 1,8 meter.

Kami menunggu foto-foto eksklusif macan tutul Jawa, yang baru diabadikan lagi setelah 30 tahun di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Explore Baluran National Park 2011

14 Desember 2010 lalu, saya diundang sebagai keynote speaker oleh Balai Taman Nasional Baluran Jatim dalam rangka EXPLORE BALURAN 2011, acara ini mengundang juga ASITA (Asosiasi Traver se Asia Tenggara )DPD Jatim dan pelaku travel di Situbondo, Bondowoso, banyuwangi dan Surabaya. Tujuan acara tersebut mengenalkan Baluran sebagai Daerah Tujuan Ekowisata (DTE) di Jatim bahkan Internasional.

Bagi saya pribadi yang telah berinteraksi dengan Taman Nasional baluran sejak 2003 hingga sekarang, ini kali pertama gebrakan oleh balai taman nasional dalam mencoba “nyali” memasarkan potensi taman nasional Baluran sebagai DTE yang tentunya membawa konsekwensi logis dalam prosesnya nanti baik dimata pelaku bisnis (travel), wisatawan, akademisi, masyarakat lokal dan tentunya Balai taman nasional Baluran sebagai perwakilan dari pemerintah.

Banyak respon positif yang bermunculan dari para undangan saat itu, tentunya juga masukan yang bersinergi bekerjasama menata kawasan Baluran menjadi DTE yang sesuai dengan aturan pemerintah dan juga kebutuhan (bukan keinginan) pelaku travel dan wisatawannya.Kritikan juga saya sampaikan kepada ASITA dan pelaku bisnis travel untuk tetap ON TRACK dalam “menjual” filosofi” ecotourism kepada wisatawan..disertai dengan berbenah pula Taman Nasional Baluran dalam melayani para ECOTOURIST dimasa mendatang, baik dalam pelayanan prima, amodasi yang bersih tidak harus mewah, ecofriendly,interpreter ecotour (bukan pemandu) dan koordinasi layanang dari pintu masuk hingga keluarnya wisatawan.

Tentunya tidalah mudah mempersiapkan semua ini , membutuhkan niat, keseirusan, kontinuitas kerja dan kerjasama yang baik dari seluruh stakeholder di sekitar kawasan. namun semuanya juga harus dilakukan SEKARANG dan SAAT INI..dengan segala keterbatasan dari kondisi yang ada di Taman Nasional Baluran (seperti kebanyakan taman nasional di Indonesia), saya melihat upaya teman teman PEH dan POLHUT telah berjalan dan akan terus berjalan dikemudian hari..dan saya akan selallu dan selalu terus “MENGAWAL” proses ini hingga saya tiddak mamupu lagi beraktifitas dalam skala kecil sekalipun
VIVA BALURAN…EXPLORE BALURAN SELAMANYA…

Catatan Kecil dari Diskusi Terbatas Wantimpres 2010

1 Desember 2010 lalu , saya diundang (dari 20 undangan ) oleh Dewan Pertimbangan Presiden bidang Pendidikan dan Kebudayaan , Prof Dr.Meuthia Hatta. Judul diskusi tersebut “Potensi dan Hambatan dalam pembangunan wisata eko budaya”.

Dari sekian materi yang dipaparkan baik dari ASITA (pelaku bisnis wisata), Akademik maupun Kemntrian Pariwisata (diwakili dierktur pengembangan pasar pariwisata), saya melihat banyak hal yang ternyata masih membuktikan (sekali lagi) bahwa mulai dari kementrian hingga pelaku bisnis pariwisata) masih melihat industri pariwisata sebagai UANG CEPAT dan TIDAK BERKELANJUTAN…konyolnya visi dan misi kemntrian pun masih tergolong tidak jelas , bisa bayangkan apa yang terjadi di level propinsi maupun kabupaten.

Contoh

  1. Bagaimana kebanyakan dinas pariwisata propinsi belum memahami konsep “Eko” dalam industri pariwisata yang telah ada sejak tahun 80an?
  2. Bagaimana kebijakan lokal (perda) tidak mendukung responsible tourism salah satunya selalu memberikan kemudahan dalam AMDAL hotel? silahkan lihat Pantai Kuta dan sekitarnya sekarang…
  3. Ego sektoral dari Kementrian Pariwisata, Kemnetrian Kehutanan dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang masih kental dalam menangani pariwisata yang maunya “eco friendly”…tidaklah mungkin
  4. Bagaimana dengan Badan nasional Sertifikasi Profesi yang seharusnya melindungi kepentingan jutaan lulusan SMK dan Sekolah tinggi pariwisata dalam bersaing dengan pekerja asing yang sudah mulai masuk ke Indonesia awal 2010 lalu?

 

Banyak hal yang masih menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, kita cenderung berpikir POTENSI dan Selalu POTENSI yang ada di Indonesia…jarang kita melihat THREAT dari kerangka SWOT yang kita kenal…harusnya TOWS bukan SWOT…

Jujur aja, saya berharap banyak terhadap proses diskusi saat itu mengingat kapabilitas dan kredibilitas penyelenggaranya… Semoga bermanfaat