Refleksi : 18 tahun mengabdi

Badan belum jenak merasakan rumah dan bertemu anak anak setelah perjalanan dari Sumbawa, dan Situbondo tanpa henti…namun RPM  pikiran sudah cepat berputar untuk menuangkan coretan yang semoga bermanfaat untuk generasi mendatang

18 tahun sudah saya lewati untuk terus konsisten dengan keilmuan saya …Ekowisata dan fotografi alam liar. Teringat saat pertama kali dan menjadi dosen pertama di D3 Pariwisata, meski honorer sifatnya dengan Rp 75.000 di tahun 1996, selama dua tahun  saya mulai mencoba mencari jati diri berspesialisasi di Ekowisata yang saat itu tidak banyak yang mengenal bahkan memahami. Artikel bahkan rujukan di Indonesia sangatlah minim, internetah yang harus saya jelajah dengan biaya saat itu yang tidak murah . Fotografi yang saya tekuni saat kuliah untuk mencari tambahan uang jajan pun menjadi alternatif saya menambah penghasilan (baca: Photography and I)

Bekerja mulai jam 7 pagi hingga 8 malam tidak jarang saya lakukan karena saya harus mengenal dunia pendidikan di pariwisata saat itu dengan cara belajar banyak dari para praktisi dosen yang mengajar di prodi ini.

Lunturnya idealisme saya di institusi ini mulai bermunculan, berbagai tantangan mulai dari lambannya perkembangan institusi ini merespon perkembangan dunia pariwisata hingga carut marutnya manajemen SDM.

Saat Allah memberikan kesempatan saya menjadi Ketua Program Studi , selama dua tahun saya berhasil menembus kerjasama internasional dengan Kesultanan Oman dan Malaysia tanpa dukungan dari institusi, hingga kocek pribadipun ikut tergerus hanya untuk memberikan pengalaman untuk mahasiswa saya,  namun sepakterjang saya yang cukup agfresif dinilai tidak membuat nyaman sebagian pejabat dan rekan di institusi ini.

Saat itu saya memutuskan untuk berkarir diluar kampus, seriring dengan itu perlakuan tidak sportif semakin kuat menerpa justru semakin menguatkan karir saya di dunia pariwisata khususnya Ekowisata Nasional dan Internasional…(maaf kalo mau detail , ga mungkin saya tulis di sini, bisa jadi desertasi …hehehehhhe)

Berbagai tawaran dan liputan telah  memberikan motivasi sekaligus  kematangan   terhadap konsistensi saya dalam keilmuan Ekowisata.

Tak terasa 18 tahun mengabdi dengan berbagai cakaran dan tempaan, …ya..18 tahun yang mendewasakan saya bahwa UNIVERSITY of LIFE adalah segalanya

#Tulisan ini saya dedikasikan bagi para mahasiswa alumni Kesultanan Oman, Dosen dan Guru yang bekerja dengan hati….terus berkarya no matter what !

Matahari diatas Gili: perjuangan menuju konservasi kawasan laut daerah (KKLD) ecomarine

Sesuai judul yang di publish oleh Matanesiamagazine.com , awalnya bulan Juli 2012 lalu, saya dan pak bambang dari akademi perikanan Sidoarjo diberi kesempatan memberikan materi kepada masyarakat Gili, kepualuan Bawean, Kabupaten Gresik. Hari pertama, seperti biasa yang saya lakukan setiap mengunjungi kawasan baru, berkeliling, observe dan mendokumentasikan lingkungan yang perlu saya jadikan materi visual  agar masyarakat bisa menyadari kekuatan dan kelemahan alam sekitarnya, lanjut hari kedua transplant terumbukarang dilakukan tim penyelam  bersama masyarakat loka agar mereka memahami pentingnya coral reef untuk kehidupan ikan hias dan menjaga iklim sekitarnya.Menjelang hari terakhir, materi saya sampaikan sedikit provokatif seperti biasanya..memang sudah menjadi ciri khas saya dalam memberikan informasi cenderung bersemangat ..hehehe maklum masih meras muda…:)

menjelang malam, iklim pertemuan dengan para tetua, tokoh dan kepala desa itu menjadi semakin “panas” saat saya tantang mereka melalui foto foto yang saya tampilkan baik yang baik dan yang buruk terkait potensi alam mereka.Berbagai analogi yang muda dipahami saya luncurkan ..bersama pak bambang dan tim Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jatim, akhirnya malam itu tak disangka mereka para tokoh, kepala desa dan kelompo pengawas masyarakat Gili setuju menandatangani surat kesepakatan resmi yang ditandatangani bersama pasal pasalnya untuk menjadikan Pulau Gili sebagai Kawsan Konservasi Laut Daerah eco marine yng akan dilanjutkan ke kementrian guna mendapatkan keputusan menteri agar legal dalam hukum nasional.

Alhamdulillah..luarbiasa saya dan tim hingga sekarang sudah membuat program pengembangan Gili sebagai kawasan ecomarine untuk program kerja 2012-2016..semoga masih berumurpanjang untuk menyelesaikan itu semua demi sebuah pulau kecil nan elok ini

Bismillah

Matahari di atas gili

fotography and I

Awalnya, saya belajar memotret saat awal usia 16 tahun, bermodal nekat, belajar sendiri karena kursus fotografi di Surabaya relatif mahal, jual motor pun dilakukn demi memperoleh kamera  Ricoh KR super II ,lensa 35mm dan 70-200 , dapet lunsuran kamera lama Nikomat FT2 .lensa 50 mm dan 35 mm, tele 200 f 4..cukup berat apalagi saat masih kuliah dobel di UBAYA dan UNAIR, sering dapet job manten, lumayan tiap rol film dapet 25 ribu yang saat itu biaya produksi cuman 20 ribuan…setelah lulus kuliah , saya memberanikan diri melamar jadi dosen D3 pariwisata Unair yang saat itu baru buka jurusan baru dan membutuhkan dosen. Lucunya, saya melamar jadi dosen karena saya pikir D3 Pariwisata punya matakuliah FOTOGRAFI..dan saya SALAh sama sekali…malah pas wawancara saya diberi setumpuk buku buat ngajar langsung..celiangak celinguk kebingungan.

Setelah saya pikir2, sapa tau bisa S2 gratis dan hobi foto jalan terus sambil berwisata:))..akhirnya saya trima tawaran unair.Sejalan dengan waktu, motret manten dan model di Sekolah kepribadian Ratih sanggarwati di Surabaya 2003 saya ganti kamera digital pertama saya Canon 350 D , tahun berjalan ternyata kejenuhan dan hasrat memotret alam tak tertahankan apalagi sejak 1999 sudah keluyuran ke TN merubetiri dan Alas purwo, bali barat, karimun jawa, bromo tengger semeru dan baluran….ditambah kajian  EKOWISATA yang saya tekuni seperti dua sisi yang berdampingan dengan wildlife photo…EKSEKUSI jawabannya..totalitas tekadnya…beragam niat, ide dan alhamdulillah sampai detik ini saya puas dengan perjalanan saya mulai dari nara sumber ekowisata regional maupun nasional  hingga dapat membuat galeri foto di Taman nasional Baluran sekaligus pameran tunggal Surabaya wildlife photo di House of sampoerna, Surabaya.

Sudah bisa dibayangkan bahwa betapa eratnya saya dengan dunia fotografi…dunia alam liar dan biodiversitasnya…betapa besar tekad itu sampai setiap kali bertemu wisatawan asing di kawasan taman nasional di manapun saya selalu bersalaman memberikan kartunama dan berucap..” Hai…My name is Nurdin Razak, ecotourism researcher and wildlife photographer..”

semoga memberikan inspirasi

salam lestari

Indonesia Wildlife Warriors: dream comes true

Kesukaan saya mempromosikan taman nasional yang pernah saya kunjungi menjadi ” hard habit to break”…saat itu saya masih menggunakan motor turing dengan box besar dibelakang. bebrapa stiker taman nasional saya tempel di sisi box agar terbaca, salah satunya stiker Wildlife warriors yang saya cetak sebagai penyemangat kampanye cinta lingkungan. Beberapa teman memperhatikan stiker stiker itu….salah satunya mas mamuk Matanesia, iseng saya lontarkan pikiran pengen punya organisasi berbasis visual untuk biodiversitas Indonesia , di Jawa Timur.Dimana, nantinya Indonesia Wildlife warriors menjadi penyedia data visual maupun soft skill bagi rekan rekan taman nasional di Jawa Timur khususnya.

Setelah nekad dengan berbagai pemikiran dan pertimbangan, saya beranikan memunculkan nama Indonesia Wildlife Warriors , di dukung mas mamuk dan mas boby  (matanesia)..ide ide terus dikeluarkan , di catat dan dieksekusi….perlahan, dimulai dari Taman Nasional Baluran, saat itu saya berpikir perlu spot yang bisa dimanfaatkan wisatawan, dan staf , salah satunya sebuah galerri foto dan perpustakaan mini di Bekol, bertujuan memberikan informasi visual sekaligus tempat pembelajaran yang bisa menjadi salah satu fasilitas bagi wisatwan dan staf di waktu senggangnya.Maka awl september 2012 , kami eksekusi galeri foto di Bekol, Taman Nasional Baluran dengan menata 9 karya foto saya selama 9 tahun mengunjungi.

Banyak yang harus dijdawalkan, seperti road show di sekolah sekolah, memberikan pelatihan kepada staf taman nasional sampai menggalang dana untuk kegiatan konservasi. Bagi saya, proses ini lebih penting daripada hasil, artinya selama proses dilakukan dengan niat positif, optimis dan baik..insya allah hasilnya akan mengikuti.

Saya tidak akan muluk muluk dalam berencana, berjalan perlahan dengan konsep matang dan jelas merupakan hal yang patut saya syukuri..semoga bisa memberikan semangat dan berbagi sekaligus rahmatan buat alam Indonesia

Note:

karena satu dan lain hal, GALERY FOTO  INDONESIA WILDLIFE WARRIORS mulai pertengahan tahun 2013 PINDAH di BALOERAN ECOLODGE (www.baloeranecolodge.com) dengan display dan tatanan yang lebih baik dan profesional..terimakasih

 

Dari kampus ke kompleks istana merdeka Jakarta



salam lestari

Semoga cerita ini memberikan motivasi kepada pembaca dari berbagai profesi untuk tetap gigih berihktiar dan berusaha dalam berkarir.
Lima belas tahun lalu, kali pertama saya diminta oleh salah satu organisasi untuk memberikan materi seminar tentang pariwisata dan agama.Saat itu, tidak pernah terbesit oleh saya bahwa itu adalah langkah awal yang menginspirasi saya untuk berspesialisasi dalam kajian Ekowisata (ecotourism) mengingat ilmu ini baru bagi Indonesia terutama pelaku industri pariwisata maupun pendidikan.
Melalui otodidak , saya mencari referensi dari badan badan internasional ekowisata, maklum di Indonesia (sampai saat ini) refrensi ekowisata relatif sedikit.Selain mempelajari refrensi tersebut, saya mulai kunjungan melakukan pelatihan gratis, penelitian, kuliah umum gratis dan seminar ke taman nasional di Jawa Timur sejak 1999 , 2 tahun di Merubetiri, 1 tahun di Alaspurwo,bali Barat dan Karimunjawa dan sampai sekarang masuk tahun ke 9 di Baluran, Situbondo. Seiring dengan itu, permintaan demi permintaan menjadi narasumber kajian ekowisata dan penelitian menjadi rutin tiap tahun dan tiap semester, baik dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jatim, Dinas Pariwisata Propinsi Jatim , Dinas Kehutanan Propinsi Jatim , BAPPEDA Surabaya, maupun instansi swasta lainnya
Suatu ketika, email masuk dari Dewan pertimbangan presiden Jakarta meminta saya menghadiri rapat terbatas Ekowisata dan Budaya 2010 di kompleks istana merdeka Jakarta. Awalnya saya ragu, apakah ini benar? saya melihat daftar undangan, saya diundang mewakili Jawa Timur.Darimana dan mengapa panitia Jakarta mengeetahui sepak terjang saya di taman nasional selama 12 tahun terakhir? padahal saya tidak memiliki link ke wantimpres Jakarta.
Sungguh pengalaman yang luarbiasa bertemu Ibu Meutia Hatta dan Pak emil salim secara langsung dan berdiskusi dengan banyak tokoh pendidikan nasional lainnya.

salam lestari