Bangunan Cagar Budaya : bukti sejarah atau tinggal sejarah..?

Posted by Nurdin Razak - May 1, 2012 - BLOG - 7 Comments
IMG_7725_resize

Kewenangan perizinan revitalisasi dan pembongkaran cagar budaya, akan segera berpindah dari pemerintah pusat ke pemerintah kota Surabaya (Kompas, 13 Agustus 2004). Ironi memang, pada saat mulai diterapkannya otonomi daerah, tiap-tiap pemerintah kota khususnya Kota Surabaya memacu pembangunan dengan dalih peningkatan perekonomian dengan mengorbankan nilai-nilai sejarah yang terdapat pada bangunan – bangunan tua . Keberpihakan pemerintah kota “terbaca” membela para pemilik modal yang hanya menghitung keuntungan finasial yang kemudian akan memberikan pajak dan retribusi yang relatif banyak kepada pemerintah kota sebagai Pendapatan Asli Daerah.

Rancangan Peraturan Daerah mengenai Benda Cagar Budaya disahkan oleh DPRD., yang tentunya akan memberikan segelintir harapan bagi masyarakat khususnya pemerhati cagar budaya seperti banguan-bangunan tua untuk sedikit bernafas lega meskipun permasalahan perlindungan terhadap peninggalan sejarah seperti bangunan tua tidaklah berhenti sampai disitu. Banyaknya bangunan –bangunan tua peninggalan kolonial yang notabene merupakan bukti sejarah perlawanan, telah mengalami perubahan pemanfaatan baik dari fungsi maupun bentuk fisiknya bahkan dihilangkan samasekali dan diganti dengan bangunan – bangunan baru. Kasus Jembatan Petekan, Bekas RS Mardi Santoso, Pabrik Bir Jl. Ratna dan banyak peninggalan lama lainnya telah menjadi “korban” pencurian, dan perampasan secara fisik maupun fungsinya.

Keberadaan instansi pemerintah yang terkait salah satunya Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan cenderung kurang memiliki sense of belongings yang tinggi dalam memanfaatkan keberadaan bangunan-bangunan tua yang berada dikawasan Jembatan merah dan Kalimas Surabaya. Pemanfaatan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan para siswa terutama pada masa-masa usia awal memasuki pendidikan, tentunya dalam format yang menarik dibantu dengan instrumen lain sepert katalog foto-foto bangunan lama yang akan dikunjungi. Bagi Dinas Pariwisata, kerjasama dengan dunia pendidikan dan pihak swasta adalah salah satu peluang yang dapat dilakukan meskipun tidak selalu harus menguntungkan dari segi finansial, paling tidak apabila koordinasi dinas terkait dapat dilakukan secara kontinyu, maka subsidi terhadap banguna-banguna tua akan terwujud dari sumbangan atau tiket masuk yang didapat dari prosentase penjualan paket wisata yang dilakukan.

Peluang pengadaan paket wisata untuk mengunjungi bangunan bangunan tua peninggalan kolonial Belanda merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang dulunya leluhur mereka pernah tinggal di Indonesia. Kasus datangnya rombongan wisatawan Belanda beberapa tahun lalu dengan tujuan mengunjungi pabrik Bir di Jl. Ratna tidak dapat terwujud karena pabrik tersebut telah beralih fungsi dan arsitekturnya, merupakan contoh bahwa masih ada ikatan historis di wisatawan Belanda

7 comments

  • sheellfia says:

    Sepakat… harusnya City of heroes ini benar2 mempertahankan history nya… amat sangat berguna ketika pemanfaatan tempat – tempat dan bangunan bersejarah dijalankan dengan baik. Hidup SOERAJA KU.

  • Freddy H Istanto says:

    Matursuwun, Mas! artikel yg menarik. ditulis tahun 2004. wow, Mas ternyata rekan seperjuangan juga. terimakasih semoga tetap bersemangat tinggi men-sosialisasikan pentingnya sejarah u pembangunan kebangsaan kenerasi2 muda kita. MERDEKA, MAs!

  • Luarbiasa tulisan ini sdh dibuat tahun 2004. hebat Mas. Semoga tetap setia menjadi pelestari pusaka surabaya.

  • Ismu says:

    Salam pak Nurdin….
    saya komen ya pak…

    Carut marut atau rusaknya peninggalan sejarah surabaya, pencerminan dari lunturnya sejarah Surabaya dalam diri arek-arek Suroboyo.

    Mereka lebih bangga menyebut dirinya “Bonek Mania” dan lebih senang memperkenalkan “JANCOK” sebagai identitas diri mereka sebagai arek suroboyo.

    Mereka lebih hafal letak dan isi setiap mall di Surabaya, dan harus bertanya kepada orang tuanya letak “Candi Corong” dan cerita di balik “tragedi Jembatan Merah”….

    Kalo kita mau mempertahankan peninggalan sejarah Surabaya, mari kita mulai dengan menghidupkan kembali sejarah dan budaya Surabaya yg sebenarnya.

  • Yeany says:

    Artikel yg menarik. Apakah di Indonesia ada NGO yg bergerak dalam melestarikan bangunan cagar budaya? Baik NGO luar maupun lokal. Siapa kira2 yg bisa saya hubungi? Terima kasih banyak sebelumnya

  • Amanda says:

    Wah, jadi kangen udah lama gak blusukan ke cagar budaya Surabaya sejak skripsi nih, pak 😀 Kalo ada acara blusukan plus plus (plus hunting foto hehehehe) boleh nih pak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>